Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

DATA SATELIT PROVINSI JATENG

banner1
Banner3
Banner5
SMS Center
PHSL IRRI
katam
MKRPL

Kalender Kegiatan

<<  Nov 2014  >>
 Mon  Tue  Wed  Thu  Fri  Sat  Sun 
       1  2
  3  4  5  6  7  8  9
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini147
mod_vvisit_counterMinggu Ini3405
mod_vvisit_counterBulan Ini147
mod_vvisit_counterSemua151719
PERBANYAKAN BENIH SUMBER JAGUNG DAN KEDELAI PDF Cetak E-mail
Joko Handoyo, S. Joni Munarso, Dian Maharso Yuwono dan F. Rudi Prasetyo

Sebagai sarana produksi yang membawa sifat-sifat varietas tanaman, benih berperan penting dalam menentukan tingkat hasil yang akan diperoleh. Varietas unggul kedelai dan jagung umumnya dirakit untuk memiliki sifat-sifat yang menguntungkan, antara lain; (1) daya hasil tinggi, (2) tahan terhadap hama dan penyakit, (3) umur genjah, (4) mutu hasil panen sesuai dengan keinginan konsumen. Keunggulan dari suatu varietas juga ditentukan oleh mutu benih sumber yang digunakan, yakni benih penjenis (BS), benih dasar (FS), benih pokok (SS), dan benih sebar (ES). Benih sumber harus menjadi jaminan mutu bagi benih, baik dari segi genetik, fisiologis, maupun fisik. Dalam penyediaan benih sumber seyogyanya tidak mengorbankan mutu karena akan merusak sistem perbenihan. Benih varietas unggul yang bermutu merupakan penentu batas atas produktivitas usahatani. Ketersediaan benih bermutu tepat waktu dan lokasi akan mendorong percepatan pengembangan inovasi teknologi baru guna meningkatkan pendapatan dan produksi jagung nasional. Saat ini, para industri benih jagung nasional dan swasta belum bersinergis, sehingga pengembangan inovasi baru masih lambat antara lain terlihat dari pengembangan varietas jagung hibrida yang baru mencapai 27,91 %, selebihnya didominasi oleh jagung lokal dan komposit. Bahkan sebagian besar petani Indonesia masih menggunakan benih asalan, berupa turunan hibrida dan komposit keturunan. Selama masih banyaknya jumlah petani yang menanam varietas lokal, maka rata-rata produktivitas jagung di Indonesia tetap rendah 2,47 t/ha (Subandi, 1988). Sistem perbenihan kedelai secara formal belum berjalan sebagaimana yang diharapkan. Hingga saat ini sedikit sekali petani yang menggunakan benih kedelai bermutu, sebagaimana yang tercermin dari penggunaan benih kacang-kacangan bersertifikat yang kurang dari 3%. Untuk memenuhi kebutuhan benih kedelai bermutu dalam upaya peningkatan produksi dan pendapatan petani perlu dilakukan Sistem Penguatan Perbenihan Kedelai dengan membina dan menumbuhkan usaha penangkaran benih, terutama di sentra produksi kedelai. Sebagai ujung tombak Badan Litbang Pertanian, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) berkuwajiban berperan aktif dalam program nasional tersebut melalui kegiatan penyediaan benih sumber jagung dan kedelai dalam kaitannya upaya percepatan pengembangan VUB. Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam penyediaan benih sumber jagung dan kedelai yang bermutu sesuai dengan kebutuhan pengguna. Kegiatan perbanyakan benih sumber kedelai dan jagung dilaksanakan di lahan petani seluas 3,5 ha untuk perbenihan kedelai (varietas Grobogan) dan 4 ha untuk perbanyakan benih jagung (Varieas Anoman dan Sukmaraga). Agar percepatan penyediaan benih sumber ke depan berjalan cepat maka metode yang dilakukan dengan sistem membetuk penangkar-penangkar binaan dan menumbuhkan sistem kelembagaan perbenihan melalui Gapoktan. Dari hasil kajian perbanyakan benih sumber kedelai, telah terbentuk 17 penangkar binaan kedelai yang mencakup luasan 3,5 ha yang terdiri dari 4 kelompok tani dan 2 Gapoktan yang mampu menyediakan benih sumber kedelai bermutu klas SS sebanyak 6.570 kg pada MH 2009 untuk luasan sekitar 120 ha ke daerah ; Blitar, Japah (Blora), Pulokulon (Grobogan), Kradenan (Grobogan), Tawangharjo (Grobogan), Tegal, Pati, Gresik, dan Madura. Analisis finansial usaha perbenihan kedelai menguntungkan biaya produksi per ha sebesar Rp. 4.962.500,- dan pendapatan sebesar Rp. 14.573.000,- sehingga keuntungan yang diperoleh per ha sebesar Rp. 9.610.500,-. dengan nilai B/C sebesar 2,94. Kelembagaan perbenihan melalui jalur antar lapang dan musim dengan benih bermutu mulai terbentuk. Sedang untuk perbenihan jagung telah terbentuk 16 penangkar binaan yang terdiri dari 4 kelompok tani tergabung dalam satu Gapoktan. Kelembagan sistem perbenihan mulai terbentuk. Gapoktan menjadi kuat karena saprodi bantuan dari BPTP dikembalikan ke Gapoktan oleh penangkar binaan (yarnen) untuk penguatan modal. Hasil benih dijamin dari penangkar binaan dijamin dibeli oleh Gapoktan dengan harga Rp 8.000,- per kg. Sampai saat laporan ini dibuat belum panen, karena tanam dimulai pada MH 2008.
 
Joomla Templates by JoomlaVision.com